Riset PRN IV sebuah konsorsiumJakarta, Humas LIPI. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti,  mengingatkan bahwa Prioritas Riset Nasional (PRN) itu bukan  penyeragaman tetapi memang diawali dengan sebuah kerangka konsep yang harus jelas. “Jadi PRN itu  bukan untuk penyeragaman, tetapi sebenarnya bagaimana membangun jejaring pada komunitas-komunitas tertentu,” ungkap Nuke, pada saat membuka acara Seminar Diseminasi Hasil Penelitian Mitra PRN IV 2020-2021 pada Rabu (23/6) lalu.

Nuke menjelaskan, tema yang diusung pada PRN IV ini adalah Penguatan Peran Indonesia di Tingkat Nasional dan Global. Ada empat point penting, yaitu : Point pertama, yang perlu mendapatkan perhatian adalah semua riset yang dilakukan haruslah mengikuti atau berkembang sesuai dengan karakter kelembagaan.

Point yang kedua adalah, semua studi yang terkait dengan internasional bukan sesuatu yang dikalahkan, tetapi adalah posisinya minoritas dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Jumlahnya tidak sebanyak tingkat kebermanfaatan secara internal, tidak direct sehingaa itu dalam posisi minoritas. “ Perlu membangun sinergi kolaborasi antar lembaga dalam berbicara persoalan-persoalan internasional seperti yang ditekuni UNAIR punya kekhasannya sendiri, begitu juga UI, UGM dimana kita saling menguatkan satu sama lainnya termasuk teman-teman dari Lembaga riset swasta maupun yang sifatnya administrasi,” tegas Tri Nuke.

Selanjutnya,.Point yang ketiga, terkait pendanaan riset mengacu pada kebijakan BRIN, dan yang perlu menjadi perhatian adalah mitra PRN sosial humaniora itu bukan hanya universitas negeri, tetapi juga univeritas swasta, Lembaga penelitian swasta, dan juga teman-teman NGO,” lanjut Tri Nuke. Ini juga menjadi bagian yang seharusnya ikut diperhitungkan secara matang didalam keberlanjutan pendanaannya.

Sementara point yang keempat,  bagaimana kita membangun komitmen bersama untuk penguatan isu-isu internasional dalam kerangka nasional. “ Ini menjadi penting untuk kedepan akan seperti apa. Saya yakin semua punya jawabannya, tetapi bagaimana kita mensinergikannya secara baik,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Ganewati Wuryandari, sekaligus selaku Manager Program PRN IV, menyampaikan bahwa riset PRN ini adalah sebagai sebuah konsorsium yang memiliki target keterkaitan kerja sama dengan mitra stakeholder. “Potensi dan kemungkinan keterhubungannya dengan stakeholder dan mitra semakin diperkuat lagi kedepannya menjadi  rangkaian riset multi years dengan target yang jelas di akhir tahun,” jelas Ganewati.

Selain itu, rangkaian riset ini sifatnya konsorsium dan sinergis, sehingga menjadi tantangan kedepannya sebagai model baru dalam pola riset. “Tetapi juga tantangan bagaimana secara internal untuk mensinergikan hasil-hasil riset kita sendiri sebelum disampaikan sebagai suatu luaran dari produk PRN IV,” tegasnya. Harapannya, bisa melakukan koordinasi dari beberapa tema yang judulnya sangat berdekatan, misalkan tema diaspora dari UI dengan diasporanya dari LIPI, sehingga harus dibicarakan dan komunikasikan satu sama lain untuk menghasilkan keluaran riset menjadi lebih solid,” pungkas Ganewati mengakhiri dan sekaligus menutup seminar Diseminasi Hasil Penelitian. (rdn;agn / ed:mtr)