Membangun ReformasiJakarta, Humas LIPI. Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menyelenggarakan the 6th Thee Kian Wie Lecture Series “Pemulihan Ekonomi dari Pandemi COVID-19: Telaah Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi” pada Kamis (29/4). The 6th Thee Kian Wie Lecture Series sendiri merupakan kegiatan tahunan LIPI sebagai bentuk apresiasi kepada Dr. Thee Kian Wie atas jasa besarnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan ekonomi di Indonesia.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, dalam sambutannya menyatakan Dr. Thee Kian Wie telah memberikan inspirasi besar dalam sejarah perkembangan ekonomi di tanah air. “Darinya kita bisa memahami pentingnya bagaimana terus melihat sejarah. Tidak untuk melihat masa lalu tetapi untuk memakai masa lalu sebagai referensi untuk masa depan dalam kita mengambil kebijakan dan keputusan,” paparnya.

Selain itu, Handoko menegaskan sektor riset dan inovasi harus berperan penting dan menjadi sentral untuk membantu negara dalam memulihkan ekonomi. “Di satu sisi, sebisa mungkin kita dapat mencuri kesempatan melakukan loncatan ekonomi, segera setelah pandemi ini berakhir yang sifatnya lebih berkesinambungan dan jangka panjang. Ini tidak bisa dilakukan kalau tidak dengan riset dan inovasi yang kuat, apalagi di tengah era desruktif saat ini ditambah lagi dengan desruktif akibat perubahan gaya hidup akibat pandemi,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI Tri Nuke Pudjiastuti menuturkan harapannya agar kegiatan ini dapat meningkatkan semangat kerja keras dan jejaring kerja sama dalam upaya pemulihan ekonomi Indonesia. “Diharapkan karya-karya Pak Thee Kian Wie dapat terus dikembangkan dan dijadikan sebuah contoh yang baik, tidak hanya oleh peneliti-peneliti di Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, tetapi juga akademisi dimanapun mereka berada,” kata Nuke.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Febrio Kacaribu yang turut hadir pun mengungkapkan bahwa dengan meningkatnya imunitas paska vaksinasi secara menyeluruh dan secara berkala, masyarakat sudah mulai melakukan aktivitas namun tetap menerapkan 3M (Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga Jarak) dan 3T (Tracing, Testing, Treatment). “Oleh karena itu, aktivitas ekonomi kita bisa mulai berjalan, sehingga lapangan pekerjaan bisa tercipta lagi supaya masyarakat juga bisa kembali dapat memenuhi kebutuhan seperti sebelum adanya pandemi,” ungkapnya.

Menurutnya, Indonesia saat ini sangat optimis jika di tahun ini bisa lebih baik dibanding tahun 2020 dengan meningkatnya Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur yang mencapai angka tertinggi sejak April 2011. Hal tersebut menandai tingginya optimisme pelaku sektor bisnis manufaktur serta tingkat konsumsi masyarakat yang mulai stabil meskipun masih di tengah upaya memerangi COVID19.

Terkait hal tersebut, peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Zamroni Salim menekankan bahwa vaksinasi menjadi kunci penting dalam proses pemulihan ekonomi nasional. Menurutnya, vaksinasi dan kegiatan ekonomi adalah semacam hubungan kausalitas, sebab permasalahan ekonomi saat ini merupakan dampak dari masalah kesehatan. Sehingga, persoalan ekonomi dan Kesehatan harus diselesaikan secara integrative dan kontinu.

“Oleh karena itu, masalah kesehatan harus diselesaikan lebih dulu, kemudian permasalahan ekonomi. Akses vaksin sebagai produk kesehatan publik harus dibarengi dengan upaya pemerintah yang serius dalam produksi vaksin nasional, termasuk meminimalisir konflik dan politisasi vaksin produksi dalam negeri, yang cenderung kontraproduktif terhadap upaya pencegahan penyebaran COVID-19,” pungkasnya,” pungkas Zamroni.

The 6th Thee Kian Wie Lecture Series “Pemulihan Ekonomi dari Pandemi COVID-19: Telaah Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi” pun turut mengundang Budy P. Resosudarmo dari the Australian National University, dan Agustinus Prasetyantoko, Rektor Univeristas Katolik Atmajaya sebagai narasumber. (sf,bn/ ed: iz)
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Zamroni S.E., M.Appl.Ec.