Jakarta. Humas LIPI. Tahun 2020 merupakan tahun yang penuh ujian bagi bangsa Indonesia. Pandemi COVID 19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat namun juga telah melumpuhkan sistem perekonomian. Pertumbuhan ekonomi terpukul hingga level minus 5,32% pada kuartal kedua, dan minus 3,49% pada kuartal ketiga.

Berbagai upaya pun dilakukan oleh pemerintah selain berupaya menghadirkan vaksin, pemerintah juga telah membentuk PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) yang di atur melalui Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 2020. “Penelitian-penelitian dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam setahun ini mampu memberikan gambaran apa yang sebenarnya terjadi, mengingat riset-riset yang dikembangkan sejalan dengan kepentingan bangsa dan bagaimana evidence yang dibangun,” tutur Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti. “Disamping itu sebagaimana tujuan dari seminar ini tentu diharapkan adanya suatu prediksi kedepan 2021, bagaimana Indonesia sebaiknya. Ini merupakan bagian dari kontribusi P2E yang sekaligus juga menjaga kualitas dari hasil-hasil penelitiannya”, tambahnya, saat membuka media briefing Outlook Perekonomian 2021, secara daring pada Kamis (17/12).

“COVID 19 belum ada tanda-tanda mereda di Indonesia. Harapannya pada tahun 2021, tentunya problema COVID 19 ini masih akan terus kita hadapi. Tantangannya, harapan kita berikutnya adalah seberapa cepat dan akuratnya vaksin itu akan ditemukan,” ungkap Agus Eko Nugroho, Kepala Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI dalam acara yang mengangkat tema ‘Upaya Mempercepat Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi’ tersebut.

Agus mengungkapkan hal menarik dan penting baginya adalah adanya lonjakan saving yang signifikan di triwulan ketiga ini. “Tampaknya kontraksi kegiatan pendapatan di beberapa kelas pendapatan yang terdampak. Pada triwulan kedua terjadi pelambatan, kemudian di triwulan ketiga ini saving luar biasa besarnya. Bisa jadi konsumsi yang selama ini menjadi faktor dari pertumbuhan ekonomi, akan menjadi tantangan,” tambah Agus.

“Pergerakan masyarakat di triwulan terakhir ini menunjukkan peningkatan. Sayangnya, kelonggaran PSBB belum bisa diimbangi dengan pertumbuhan yang signifikan di beberapa tempat. Contohnya adalah Jakarta, meskipun terjadi peningkatan tetapi relatif flat,” jelas Agus.

“Tenaga kerja menjadi aspek yang penting dari proses pemulihan ekonomi, dan ini yang diharapankan, bahwa bagaimana memanifestasikan Undang-Undang Cipta Kerja yang baru saja diinisiasi menjadi penting. Ini yang perlu kita dorong lebih lanjut,” tegas Agus. Ia pun menerangkan beberapa sektor tampaknya terus menjadi andalan utama, seperti sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, manufaktur, perdagangan besar dan eceran. “Manufaktur itu menjadi aspek yang perlu diperhatikan karena kontraksi yang luar biasa, dan ini yang dampaknya ini yang menjadikan manufaktur sebagai satu aspek yang penting” terangnya.

Tim Peneliti P2E LIPI memprediksi skenario makro ekonomi 2021 dan meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi akan mengalami pergerakan, yang sangat tergantung dari keberadaan dan ketersediaan vaksin COVID 19. “Ini yang saya kira perlu perhatian pemerintah. Keberadaan vaksin akan mendorong ekspektasi konsumsi. Kalau kita amati jika pertumbuhan vaksin misalnya 50 persen, maka akan terjadi suatu pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan antara 3 - 3.7 persen,” papar Agus.

Apabila kita bisa mengupayakan keberadaan vaksin bisa mencapai 4 persen, menurut Agus, bisa menjadi suatu prestasi. “Asumsinya, dalam pergerakan manusia ada ekspektasi terhadap konsumsi akan menjadi signifikan. Ini lebih rendah dari beberapa prediksi makro ekonomi dari pemerintah,” terangnya. “Saya kira, karena itu vaksin-vaksin ekonomi atau kebijakan ekonomi menjadi yang sangat kritikal,” jelas Agus.

Dalam kesempatan ini, para peneliti P2E LIPI lainnya memaparkan isu dan tantangan ketahanan pangan, lingkungan usaha, dan perdagangan internasional. (dsa/ ed:drs)

Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Agus Eko Nugroho S.E.M.Appl.Econ.