perekonomian nasionalJakarta, Humas LIPI. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof.Dr. Tri Nuke Pudjiastuti, mengatakan, pandemi COVID-19 pada akhir 2019, mempengaruhi secara signifikan laju pertumbuhan ekonomi global karena semakin terbatasnya ruang gerak yang normal dalam melakukan kegiatan produksi. “ Pandemi, membawa implikasi tekanan terhadap terganggunya kegiatan ekonomi maupun investasi,” Tutur Nuke, dalam webinar bertajuk “Perdagangan dan Investasi Indonesia di Masa Pandemi COVID-19: Kinerja dan Tantangan Global”, pada Selasa (15/12).

Dikatakan Nuke, kondisi perdagangan global yang diwarnai isu dan kebijakan protektif yang dilakukan oleh sejumlah negara mitra dagang utama bisa mempengaruhi peta hubungan ekonomi/investasi dan perdagangan dunia. “Dalam kancah global, meningkatnya akses pasar dan diversifikasi pasar menjadi pilihan rasional untuk menumbuhkan perekonomian nasional yang sekarang sedang melesu,” imbuhnya. “Masing masing negara anggota World Trade Organization (WTO) kini, apalagi setelah munculnya Pandemi COVID-19, lebih banyak memilih untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor yang ada dan memperkuat perdagangan dalam negeri,” tambah Nuke.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Zamroni Salim, Ph.D, yang juga merupakan Koordinator Penelitian Global Trade and Protectionism, LIPI PRN - IV LPDP dalam paparannya di acara ini menjelaskan bahwa  kondisi yang lebih cenderung protektif tersebut sebenarnya bertentangan dengan marwah WTO yang mendorong perdagangan dan investasi yang lebih terbuka dan tanpa hambatan. “Namun demikian, kebijakan tersebut juga realistis ketika negara dagang dihadapkan pada melesunya perekonomian dunia, terbatasnya interaksi fisik perdagangan, dan munculnya gerakan dan kebijakan ketahanan nasional negara mitra WTO, khususnya ketahanan pangan dan energi” ujar Zamroni.

Lebih lanjut Zamroni menegaskan bahwa dalam upaya meningkatkan daya saing dan memperluas pasar, Indonesia perlu memperhatikan kekuatan industri dalam negeri dengan memperhatikan pada keterlibatan investor Foreign Direct Investment (FDI), keterlibatan Usaha Kecil Menengah (UKM) pada Global Value Chain (GVC), diplomasi yang aktif di level dunia yang didasarkan pada landasan legal World Trade Organization (WTO) yang logis dengan dukungan kajian ilmiah,” ungkap Zamroni. “Termasuk kemungkinan untuk melakukan revisi terhadap perjanjian perdagangan Biletaral dan Regional

Dalam upaya peningkatan akses pasar, perhatian pada investasi khususnya bidang manufaktur dan perdagangan antar daerah,memiliki peluang dan potensi untuk: (1). Meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri; (2). Mengatasi ketimpangan produksi regional termasuk masalah inbalanced-cargo; (4) Infrastruktur dan logistik termasuk e-commerce. “ Potensi tersebut harus menjadi prioritas untuk meredam perlambatan pertumbuhan ekonomi dari pandemi dan kelesuan ekonomi global,“ sebut Zamroni.

Dikatakan pula  masalah nilai tambah menjadi krusial ketika berbicara pada daya saing, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil pembangunan. “Di sini perlu industri pengolahan yang kuat  dan bukan sekedar promosi smelter, tetapi juga hilirisasi yang nyata di tiap produk utama ekspor dan turunannya, dan dukungan untuk tumbuhnya investasi di daerah (termasuk FDI) dalam mendukung target perluasan pasar di negara-negara potensial sebagai mitra dagang Indonesia,” demikian dikatakan Zamroni. (sys/ed:mtr)