Berita
Pin It
Ilustrasi penangkapan teroris.

Ilustrasi penangkapan teroris.

Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Radikalisme berakar pada intoleransi baik di dunia nyata maupun media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koordinator Tim Riset Program Prioritas Nasional Membangun Narasi Positif Kebangsaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Pamungkas mengatakan intoleransi keagamaan merupakan lahan subur bagi terorisme. Intoleransi ini baik di dunia nyata maupun media sosial

"Terorisme berakar pada radikalisme. Radikalisme berakar pada intoleransi, baik di dunia nyata maupun media sosial," kata Cahyo dalam sebuah diskusi publik tentang deradikalisasi yang digelar LIPI di Jakarta, Kamis (17/5). 

Cahyo mengatakan radikalisme agama adalah bentuk-bentuk interpretasi keagamaan yang mendorong penganutnya, baik secara aktif maupun pasif, untuk mendorong penggantian sistem politik yang berlaku di sebuah negara. Intoleransi adalah orientasi negatif atau penolakan seseorang terhadap hak-hak politik dan sosial dari kelompok yang tidak disetujui.

Berdasarkan definisi tersebut, karakter radikalisme adalah memiliki aspirasi untuk mengganti dasar negara dan sistem politik yang berlaku. Selain itu, penolakan terhadap hak-hak politik dan sosial dari kelompok yang tidak disetujui.

"Terdapat empat kategori radikalisme dan intoleransi, yaitu radikalisme kekerasan, radikalisme nonkekerasan, intoleransi kekerasan dan intoleransi nonkekerasan," tuturnya.

Cahyo menjadi salah satu pembicara diskusi publik bertema "Memutus Mata Rantai Gerakan Terorisme, Mungkinkah?: Kegagalan dan Keberhasilan Deradikalisasi". Selain Cahyo, pembicara lainnya adalah Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Paramadina Ihsan Ali Fauzi dan mantan narapidana teroris yang menjadi praktisi deradikalisasi Ali Fauzi Manzi.

 
Sumber : Antara

Kontak Kami

 

 

Alamat

LIPI Pusat
Sasana Widya Sarwono (SWS)
Jl. Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta 12710

 

 

Telepon

+62 21 522 5711      Ext: 1299 & 1292

 

 

Email

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.